Senin, 18 April 2011

Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah


ILMU TAUHID
SIFAT-SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH

Berkenaan dengan sifat-sifat wajib bagi Allah yang mempunyai dalil-dalil tertentu yang wajib diketahui oleh kita adalah dua puluh sifat, 20 sifat tersebut ada yang menggunakan dalil naqli (dalil yang didasarkan kepada firman Allah (Al-Qur’an) dan atau sunnah (hadits Nabi), yaitu sama, bashor, kalam, kaunuhu mutakaliman, dan selain tesebut diatas menggunakan dalil aqli (dalil yang didasarkan kepada akal sehat). Yang mana kegunaan dari dalil adalah untuk memperkuat keyakinan tentang sifat-sifat yang berhubungan dengan dzat Allah swt.
Adapun sifat-sifat yang berhubungan Allah terbagi tiga bagian :
a.      Sifat-sifat yang wajib (mesti ada)
b.      Sifat-sifat yang mustahil (mesti tidak ada)
c.       Sifat yang jaiz (boleh ada, boleh tidak)
Sifat-sifat yang dua puluh wajib di Allah tersebut adalah :
1.     Wujud
Allah wajib bersifat wujud, artinya Allah mesti ada.
Mustahil Allah bersifat ‘adam, yakni mustahil allah tidak ada
Dalil wujudnya Allah adalah dengan dalil aqli dan diperkuat dengan dalil naqli, yaitu:
A. Dalil Aqli
Adanya semesta alam yang kita lihat sudah cukup dijadikan sebagai alasan adanya Allah, sebab tidak masuk akal seandainya ada sesuatu yang dibuat tanpa ada yang membuatnya.
Jika timbul pertanyaan: “kenapa adanya alam (bumi, langit dan seisinya) menjadi dalil adanya Allah? Toh sebelum kita terlahirpun alam ini sudah terbukti.”
Untuk menjawab pertanyaan ini, bisa dijawab dengan tiga segi jawaban, yakni:
1. Dari segi barunya Alam (hudutsul Alam)
Alam tidak bisa aterlepas dari dua faktor, yaitu jirim dan arodh.
Arodh adalah hal-hal yang bersifat temporal, yaitu sifat-sifat yang selalu melekat pada jirim, seperti gerak atau diam, panjang atau pendek, besar atau kecil, dll.
Kita dapat menyaksikan bahwa sifat-sifat tersebut selalu berubah. Setiap yang berubah pasti baru (huduts). Maka setiap ‘arodh pasti baru.
Kita tahu bahwa setiap jirim tidak bisa terlepas dari arodh, setiap sesuatu yang selalu lengket dengan yang baru sudah pasti sesuatu tersebut adalah baru. Dan alam adalah sesuatu yang baru, dan setiap yang baru pasti ada yang membuatnya. Pembuatnya adalah Allah swt.
2. Dari segi bahwa alam termasuk barang mungkin (Imkanul Alam)
Status alam sebelum terwujud dikatakan seimbang (musawah, balans) antara ada (wujud) dan tiadanya (‘adam) sebagai gambaran, ada dan tiada alam adalah seperti halnya dua piringan neraca (timbangan) yang selalu seimbang manakala salah satunya belum dikenai beban berat (murojjih). Adalah suatu hal yang mustahil, salah satu neraca tersebut naik dan turun, jika dikeduanya tidak dikenai beban berat. Mesti, salah satunya bisa naik atau turun, apabila yang satunya lagi dikenai beban berat. Demikian pula alam, menurut asalnya antara ada dan tiada adalah seimbang. Maka tidak masuk akal jika salahsatu dari ada atau tiada bisa terbukti tanpa ada yang membuktikannya. Mestinya, apabila ada (wujud) pasti ada yang mengadakan (mujid), dan bila tiada (‘adam) pasti ada yang meniadakan (Mu’dim).
Manifestasi alam yang dapat kita lihat sudah cukup dijadikan alasan atau petunjuk (dalil) atas wujud Allah swt. Walaupun kita tidak bisa membuktikan adanya dengan kasatmata. Bahkan, tidak ada alam pun menjadi dalil adanya Allah swt. Dengan alasan, ada dan tidak ada alam menurut asalnya adalah seimbang (musawah), sebagaimana keterangan diatas.
3. dari dua segi tersebut diatas (huduts dan imkan)
Jawabannya adalah gabungan antara jawaban yang pertama (hudutsul alam) dan yang kedua (imkanul alam).
B. DALIL NAQLI
جلقالسموات والارض وما بينهمافي ستةايام         ﷲالذى
Allahlah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam (waktu) enam hari. (QS. AS sajdah [32]:4))
2.     QIDAM
Allah wajib bersifat Qidam, artinya Terdahulu adannya, maka wajib Allah Qodim (yang tidak berpermulaan adanya)
Mustahil Allah bersifat Huduts, yaitu mustahil Allah berpermulaan adanya).
a.      Dalil aqli sifat Qidam
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah antara qodim dan hadits. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits (yang membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga, misalnya C. Begitulah seterusnya.Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa berputar). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib bersifat Qidam.
b.      Dalil Naqli sifat Qidam
Firman Allah :
            هوالاول والاخروالظاهروالباطن
            Dialah yang awal dan yang akhir Yang zhohir dan yang bathin. (QS. Al-Hadid [57]:3)

3.     BAQO
Allah wajib bersifat Baqo, artinya kekal (abadi) selama-lamanya.
a.      Dalil Aqli sifat Baqo

Allah Bersifat Baqo
 
Muhal
 
Imkan Fana
 
Right Arrow: Allah Wajib Baqo
Daur
 
Hadits
 
Muhdits
 
Tasalul
 
 







Seandainya Allah tidak wajib Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang telah lewat dalam sifat Qidam.
b.      Dalil Naqli Sifat Baqo
Firman Allah :
كلشئ هالك إلاوجهه
Tiap sesuatu akan binasa (lenyap) kecuali Dzat-nya. (QS. Qoshos [28]:88)



4.     MUKHALAFAH LIL HAWADITS
Allah wajib bersifat Mukhalafah lil Hawadits, artinya tidak menyamai sekalian makhluk, baik manusia, jin, malaikat dan sebagainya.
Maka Allah tidak bersifat dengan sesuatu yang baru, misalnya: berjalan, duduk, berdiri, bersemayam, atau bertelinga, bermulut, bermata, Dll. Sebab semua itu adalah sifat-sifat atau sesuatu yang berada di makhluk. Dengan demikian setiap apa yang terlintas dalam hati berupa panjang, pendej, lebar, kurus atau gemuk, maka Allah bukan seperti itu.
Mustahil Allah bersifat Mumatsalah lil hawadits,yakni mustahil Allah serupa dengan makhuk.
a.      Dalil Aqli sifat mukhalafah lil hawadits
Apabila diperkirakan Allah menyamai sekalian makhluknya, niscaya Allah dalah baru (Hadits), sedangkan Allah baru adalah mustahil
b.      Dalil Naqli sifat mukhalafah lil hawadits
Firman Allah :
ليس كمثله شيئ وهوالسميع البصير
Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan dia, dan dia-lah yang maha mendengar lagi maha melihat.  (QS. Asy-Syuro [42]:11)

5.     QIYAMUHU BINAFSIHI
Allah wajib bersifat Qiyamuhu binafsihi, artinya tidak membutuhkan kepada yang lain.
Pengertian Qiyamuhu binafsihi mengandung dua pengertian, yaitu:
a.      Allah tidak membutuhkan Dzat.
b.      Allah tidak membutuhkan sang pncipta.
Mustahil Allah bersifat Ihtiyaj, yakni mustahil Allah bergantung atau berhajat kepada yang lain.
Pengertian Ihtiyaj pun mengandung dua pengertian, yaitu:
a.      Allah Mustahil membutuhkan dzat.
b.      Allah mustahil membutuhkan sang pencipta.

a.      Dalil Aqli sifat Qiyamuhu Binafsihi
Seadainya Allah membutuhkan dzat, niscaya Allah adalah sifat, sebab hanya sifatlah yang selalu membutuhkan dzat, sedangkan dzat selamanya tidak membutuhkan dzat lain untuk berdirinya.
Dan apabila Allah “Sifat” adalah mustahil, sebab apabila Allah “sifat”, maka Allah tidak akan disifati dengan sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah, sedangkan sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat yang wajib bagi Allah berdasarkan dalil-dalil tertentu. Berarti apabila Allah tidak disifati dengan sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah adalah salah (Bathil), dan batal pula sesuatu yang mengakibatkannya, yaitu butuhnya Allah kepada dzat. Apabila batal butuhnya Allah kepada dzat maka tetap Maha kaya (istighna)nya Allah dari dzat.
Seandainya Allah membutuhkan sang pncipta, niscaya Allah baru (Hadts), sebab yang membutuhkan pencipta hanyalah yang baru sedangkan dzat qodim tidak membutuhkannya. Dan mustahil Allah Hadits, karena segala sesuatu yang hadits harus membutuhkan sang pencipta (mujid) yang kelanjutannya akan mengakibatkan daur atau tasalul.
b.      Dalil Naqli Sifat Qiamuhu Binafsihi
Firman Allah:
إن اﷲ لغنى عن العا لمين
Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.  (QS. Al Ankabut [29]:6)

6.     WAHDANIYAT
Allah wajib bersifat wahdaniyat, artinya tunggal, tiada sekutu baginya, baik dalam dzat, sifat-sifat atau perbuata-nya.
Pengertian wahdaniyat (tunggal)nya Allah meliputi tiga macam :
a.      Tunggal pada dzatnya (Wahdaniyat fidz dzat)
-          Dzat Allah tidak terseusun/terbentuk dari berbagai bagian (juz) pengertian ini membersihkan kam muttasil pada dzat Allah.
-          Dzat Allah tidak bersekutu, yakni tidak dua atau tiga, dst. Pengertian inii membersihkan kam munfasil pada dzat Allah.
b.      Tunggal pada sifat-sifatnya (wahdaniyat fish shifat)
-          Setiap jenis pada sifat-sifat Allah hanya satu-satu. Allah tidak disifati dengan dua sifat, tiga sifat atau lebih yang satu nama dan satu pengertian. Berbeda dengan sifat yanga ada pada makhluk. Misalnya, sifat sama (mendengar) pada manusia bertingkat-tingkat, terkadang mendengar sekali, mendengar biasa-biasa, atau agak mendengar, bahkan nyaris tidak mendengar. Berbeda dengan mendengarnya Allah.
-          Selain Allah tidak mempunyai sifat yang menyerupai sifat-sifatnya. Pengertian ini membersihkan kam munfasil pada sifat Allah.
c.       Tunggal pada perbuatan-perbuatannya (wahdaniyat fil af’al)
-          Selain Allah tidak ada yang mempuyai pekerjaan yang memberi bekas tau pengaruh
(ta’tsir). Dalam arti yang mempunyai pekerjaan yang hakiki hanyalah Allah, adapun pekerjaan yang ada di makhluk hanya sebagai kasab atau ikhtiar. Pengertian ini membersihkan kam munfashil pada perbuatan Allah.
            Dalil Naqli Sifat Wahdaniyat
            Firman Allah :
          لوكان فيهماالهةإلااﷲ لفسد تا
            Seandainya di langit dan dibumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya langit dan bumi akan rusak.         (QS. Al Anbiya [21]:22)

7.     QUDROT
Allah wajib bersifat Qudrot, artinya kuasa, berkemampuan.
Maka Allah membuat atau meniadakan makhluk dengan sebab sifat qudrotnya. Allah menciptakan atau meniadakan makhluk dengan sebab sifat qudrotnya. Allah menciptakan dan meniadakan barang mungkin sudah pasti akan sesuai dengan apa yang telah Allah tentukan lewat Irodatnya di azali.
Perealisasian (pembuktian) ketentuan-ketentuan Allah, dengan menciptakan atau meniadakan dinamakan qodar, untuk lebih jelasnya, pengertian Qodho dam Qodar akan dijelaskan pda bagian sam’iyyat.
Mustahil Allah bersifat ‘Ajzun, yakni mustahil Allah tidak kuasa, atau tidak berkemampuan untuk menciptakan atau meniadakan barang mungkin yang telah ditentukan lewat Irodatnya di Azali.
a.      Dalil Aqli sifat Qudrot
Dalilnya adalah adanya alam semesta.
Proses penyusunan dalilnya, jika Allah tidak berkemampuan niscaya Allah lemah(‘Ajzun), dan apabila Allah lemah maka tidak akan mampu menciptakan makhluk barang sedikitpun.
b.      Dalil Naqli sifat Qudrot
إن اﷲعلى كل شيى قد ير
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.  (QS. Al-Baqarah [2]:20)

8.     IRODAT
Allah wajib bersifat Iradat, artinya berkehendak, dengan kata lain dalam melakukan sesuatu tidak terlepas dari kehendaknya.
Mustahil allah bersofat karohah. Yakni mustahil Allah terpaksa.
Fungsi sifat iradat adalah menentukan (takhsish) sesuatu yang mungkin. Dengan sebab sifat iradatnya, di azali allah menentukan sesuatu yang mungkin. Misalnya, diazali allah menentukan dengan iradatnya kerpada Ahmad dalam hal menciptakan atau tidaknya dan apabila diciptakan dia akan mempunyai sifat demikian ....., lahir dizaman....., bertempat tinggal di ....., dan lain sebagainya. Ketentuan –ketentuan yang telah Allah tetapkan di azali dinamakan qodho. Dengan ketentuan ini, maka barang mungkin tersebut sudah pasti akan sesuai dengan apa yang telah allah tentukan kepadanya ewat iradatnya Allah.
a.      Dalil Aqli sifat Irodat.
Dalilnya adalah adanya alam semesta.
Proses penyusunan dalil, seasndainya allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa (karohah), dan allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena tidak akan disifati qudrot, akan tetapi tidak disifatinya Allah dengan sifat qudrot adalah mustahil, sebab akanberakibat lemahnya Alla, sedangkan lemahnya Allah adalah mustahi, karena tidak akan mampu membuat makhluk barang sedikitpun.
b.      Dalil Naqli sifat Irodat.
Firman Allah :
ان ربك فعال لمايريد
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
(QS. Hud[50]:107)
9.     ILMU
Allah wajib bersifat ilmu, artinya mengetahui.
Mustahil Allah bersifat jhal, yakni mustahil allah tidak mengetahui. Ilmu Allah berbeda dengan ilmu Allah yang ada dimakhluk, sebab ilmu allah tiada berpermulaan dan tiada berakhir. Sedangkan Ilmu yang ada pada makhluk ada awalnya da ada akhirnya. Allah mengathui sesuatu sesuai dengan kenyataan (obyektif). Tiada sesuatupu yang terhalang dan samar dari ilmunya. Segala sesuatu termonitor oleh ilmu allah swt. Baik secar totalitas taupun rincian, yang ada dimuka bumi atatupun dilangit. Allah mengetahuijumlah ilangan pasir, tetesan air hujan, daun-daun pepohonan, da makhluk sekecil apapun.
a.      Dalil Aqli sifat Ilmu
Dalilnya adalah adanya alam semesta.
Proses penyusunan dalil, seandainya Allah tak berilmu niscaya tidak akan berkehendak, sedangkan allah tidak berkehendak adalah mustahil, karena tidak akan disifati qudrot, akan tetapi Allah tidak disifati dengan qudrot adalah mustahil, sebab akan berakibat lemahnya Allah. Sedangkan lemahnya Allah adalah mustahil, karena tidak akan mampu membuat barang makhluk sedikitpun.
b.      Dalil Naqli sifat Ilmu
Firman Allah :
وهوبكل شيى عليم
Dan dia maha mengetahui segala sesuatu.
(QS.Al Hadid [57]:3 atau QS. Al Baqaroh [2]:29)
10.  HAYAT
Allah wajib bersifat hayat artinya hidup
Mustahil Allah bersifat maut, yakni mustahil Allah tidak hidup.
Hidupnya Allah jauh berbeda dengan hidupnya makhluk, sebab hidupnya Allah dengan dzatnya, bukan dengan ruh.  Sedangkan hidupnya makhluk allah adalah dengan sebab ruh. Hayat adalah seifat yang memegang peranan penting untuk dibenarkan (disahkan)nya sesuatu dzat bisa mempunyai daya tangkap (idrok, sepeti penglihatan, ilmu, dan pendegaran). Dalam arti suatu dzat bisa dikatakan berilmu, melihat, mendengar, apabila hidup. Akan tetapi tidak mesti sesuatu yang bersifat hayat harus selalu idrok.
Sifat hayat sama sekali tidak ada hubungan (ta’alluq) dengan sesuatu yang ada (maujud) atau sesuatu yang tiada (ma’dum) melainkan hanyalah menjadi syarat untuk adanya idrok.
a.      Dalil Aqli sifat hayat
Dalilnya adanya alam semesta. Proses penyusunan dalil, seandainya Allah tidak hidup maka tidak akan disifati Qudrot, akan tetapi Allah tidak disifati dengan Qudrot adalah mustahil, sebab akan berakibat lemahnya Allah, seangkan lemahnya Allah adalah mustahil, karena tidak akan mampu membuat alam semesta.
b.      Dalil Naqli sifat Hayat
Firman Allah :
وتو كل على الحى الذ ى لايمو ت  
Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup yang tidak mati.  (QS. Al-Furqon [25]:58)

11.SAMA
Allah wajib bersifat sama ‘artinya mendengarkan.
Mustahil Allah bersifat shomam, yakni mustahil Allah tuli.
Mendengarnya Allah berbeda dengan mendengarnya makhluk. Allah mendengar tanpa membutuhkan gendang telinga dan daun telinga. Sedangkan makhluk mampu mendengar dengan perantaraan telinga. Allah mendengar suara melatanya semut hitamdi atas batu yang licin, karena pendengarannya tidak seperti pendengaran makhluk yang selalu bersifat kekurangan serta penangkapannya menunggu syarat dan sebab – sebab yang biasa.



Dalilnya menggunakan kutipan(Naql), yaitu Firman Allah:
وهو السميع البصير
Dan dialah yang maha mendengar lagi maha melihat.  (QS. Asy Syuro [42]:11)

12.BASHOR
Allah wajib bersifat Bashor, Artinya Melihat.
Musthail Allah bersifat Ama, yakni mustahil allah buta.
Alah melihatsemut hitam dimalam yang gelap gulita, karena penglihatannya tidak seperti penglihatan makhluk yang sealu bersifat kekurangan serta penangkapannya menunggu syarat dan sebab-sebab biasa
Dalilnya menggunakandalil kutipan (Naql), yaitu firman Allah:
وهوالسميع البصير
Dan dialah yang maha mendengar lagi maha melihat. (QS. Asy Syuro[42]:11)

13.KALAM
Allah wajib bersifat kalam, artinya berfirman.
Mustahil Allah bersifat Bakam, yakni mustahil Allah bisu.
Dalilnya menggunakan dalil kutipan (Naql), yaitu firman Allah:
وكلم ﷲموسى تكليما   
Dan Allah berfirman kepada musa dengan langsung. (QS. An Nisa:164)
Kalam Allah jauh berbeda dengan kalam makhluk, sebab kalam allah adalah qodim, bukan makhluk, sehingga ia harus dibersihkan dari segala sesuatu yang baru (hadits) dan dari segala ‘arodhnya maka kalam Allah tidak bersuara, tidak berawal, tidak berakhir, tidak ber-i’rob dan tidak engandung bina.

14.KAUNUHU QODIRON.
Allah wajib bersifat Kaunuhu Qodiron, artinya tetap selalu dalam keadaan yang kuasa atau mampu.
Mustahil Allah bersifat Kaunuhu Ajizan, yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak kuasa atau tidak mampu.
Dalilnya kaunuhu Qodiron sama dengan sifat Qudrot.
15.KAUNUHU MURIDAN
Allah wajib bersifat kaunuhu muridan, artinya tetap selalu dalam keadaan yang berkehendak.
Mustahil Allah bersifat kaunuhu karihan, yakni mustahil Allah dalam keadaan terpaksa.
Dalilnya kaunuhu muridan sama dengan dalil sifat Irodat
16.KAUNUHU ‘ALIMAN
Allah wajib bersifat kaunuhu Aliman, artinya tetap selalu dalam keadaan yang mengetahui.
Mustahil Allah bersifat kaunuhu jahilan, yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak mengetahui.
Dalilnya sama dengan dalil sifat ilmu.



17.KAUNUHU HAYAN
Allah wajib bersifat kaunuhu hayan, artinya tetap selalu dalam keadaan yang hidup.
Mustahil Allah bersifat kaunuhu mayitan Yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak hidup.
Dalinya kaunuhu hayan sama dengan dalil sifat hayat
18.KUNUHU SAMIAN
Allah wajib bersifat kaunuhu samian, artinya tetap selalu dalam keadaan yang mendengar.
Mustahil Allah bersifat Kaunuhu Ashoma, yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak mendengar (tuli)
Dalilnya sama dengan dalil sifat Sama.
19.KAUNUHU BASHIRON
Allah wajib bersifat kaunuhu Bashiron, artinya tetap selalu dalam keadaan yang melihat.
Mustahil Allah bersifat Kaunuhu A’ma, yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak melihat  (buta)
Dalilnya sama dengan dalil sifat Bashor.
20. KAUNUHU MUTAKALLIMAN
Allah wajib bersifat kaunuhu mutakaliman, artinya tetap selalu dalam keadaan yang berfirman.
Mustahil Allah bersifat Kaunuhu Abkama, yakni mustahil Allah dalam keadaan yang tidak berfirman (bisu)
Dalilnya sama dengan dalil sifat Kalam.

risma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar